Jumat, 21 November 2014

Belajar Hidroponik

Kali ini saya ingin berbagi cerita kecil tentang bertanam tanpa menggunakan media tanah. Sebenernya udah lamaaaa sekali puengeeen bikin instalasi hidroponik sederhana, tapi dari dulu ragu-ragu melulu. Takut gagal dan takut tidak istiqomah :D Sampai akhirnya saya bosan sendiri, haha ora mutu ya. Mungkin yang bikin ragu-ragu karena belum pernah liat pioner yang lebih dulu berkebun sistem ini, di Pematang Siantar, khususnya. Hal yang membuat bikin semangat salah satunya karena gemesss berulang kali berkebun kecil-kecilan di tanah tidak ada yang sukses. Baik saya tanam sendiri atau lewat tangan tukang kebun. Dari cabe, paprika, labu... semuanya bikin lumanyun, yang lumayan ya cuma ubi kayu, huwaaaaa..... pikir2, agak curiga dengan kondisi tanah di sekitar rumah yang kahat hara. Akhirnyaa..bismillah, pelan-pelan belajar mengenal hidroponik lagi. Kenapa lagi? Iya, karena sebenernya tahun 2001 sudah sempat belajar di sebuah perusahaan swasta hidroponik di Mega Mendung, Cisarua, Bogor #so what?? qiqiqi....

Naah, karena sekarang skalanya versi ibu-ibu yang cuma pengen belajar mengusahakan sayuran sehat untuk keluarga, jadi harap maklum kalau hasil belajarnya masih nanak-nunuk alias alon-alon waton kelakon, hehe....

Langkah pertama dalam bertanam hidroponik, tentu menyiapkan biji berkualitas dan menyemai. Cara yang saya pakai juga simpel aja.  Kebetulan saya pakai media tanam rockwool atau semacam spons yang merupakan hasil pemanasan batuan hingga meleleh seperti lava. Rockwool bersifat higienis dan mudah menyimpan air, jadi sangat cocok sebagai media tanam. Bisa didapatkan di toko-toko pertanian. Konon rockwool ramah untuk lingkungan, tapai ternyataaa... tidak cukup ramah pada saya, karena ternyata saya alergi...huhuhu, jadi kulit yang terkena RW gatal2 dan bruntusan, huaaa... jadi hati2 ya.

Bagi yang kesulitan mendapatkan media rockwool, bisa menggunakan spons ikan yang biasa untuk akuarium, tapi karena spons bersifat sintetik, tentu sifat kelembabannya berbeda dengan rockwool. Media tanam alternatif yang lain adalah sekam bakar yang sudah dicampur cocopeat (sabut kelapa yang sudah dihilangkan zat tanin-nya). Campuran ini konon cukup ideal digunakan sebagai media tanam hidroponik.

Oh iya, daripada kepanjangan cerita media, ini penampakan semaian saya....


potong RW kecil2 (sebesar alas gelas media), rendam 10 menit dalam air, kibaskan, masukkan benih dengan bantuan tusuk gigi, pasang tag name benih *takut lupa*
tutup tray semai dengan plastik hitam, cukup semalam aja. Begitu kulit benih sudah nampak pecah dan muncul putih2 (sprout), langsung kenalkan sinar matahari...untuk menghindari etiolasi...


Jangan lupa mengecek selalu kelembabab rockwool. Usahakan pagi dan sore disemprot dengan sprayer.  Rasakan sensasi hati saat melihat benih mulai menyapa.....*sori, lebay sikit :p*

Setelah benih tumbuh menjadi bibit....tunggu sampai berdaun 4, dia sudah siap untuk dipindahkan ke tempat penanaman. Yang wajib disiapkan adalah wadah tanam, bisa berupa botol air mineral, toples bekas, pot, box styrofoam, dan lain-lain. Nutrisi yang dipakain tentu saja nutrisi khusus hidroponik, biasa disebut ABmix, terdiri dari 2 larutan nutrisi makro dan mikro. Jika memang kesulitan untuk memperoleh ABmix, bisa diganti dengan larutan pupuk NPK mutiara, Urea, dan Gandasil. Untuk takarannya...monggo googling dulu ya...saya belum sempat searching2, hehe.

Oh iya, tempat penanaman bibit terdiri dari 2 bagian, yaitu netpot dan wadah nutrisi (botol mineral, dll). Netpot bisa berasal dari wadah bekas puding yang dibentuk sesuai netpot aslinya, dilubangin sebagai tempat akar tumbuh dan bernapas dengan menggunakan cutter, gunting, atau solder. Sebagai gambaran, begini penampakan netpot :



 Buat celah ntuk menyelipkan kain flanel (warna pink). Kain ini bisa digantikan oleh sumbu kompor atau sumbu pel bekas. Jangan kain biasa ya, karena bakal rapuh terendam air nutrisi. Kain flanel bisa didapatkan di toko alat tulis. Daya serapnya yahud dan awet. Netpot yang sudah terpasangi kain flanel ini dicelupkan pada larutan nutrisi terlebih dahulu, untuk menyempurnakan daya kapilaritasnya.

Cara memasang bibit siap tanam: masukkan bibit bersama rockwoolnya atau kapas basah ke dalam netpot. Netpot dimasukkan ke dalam botol aqua yang sudah dilubangi dan diisi nutrisi. Sistem hidroponik yang saya lakukan ini adalah dengan sistem Wick atau dengan menggunakan air statik atau air yang tidak bergerak. Ini jenis hidroponik paling sederhana.

Duh, sayang sekali saya belum sempat membuat sketsanya. Semoga bisa dimengerti maksudnya ya.

Penampakan jadinya adalah seperti berikut:


PakCoy dan Selada Hijau


Atau begini...
Oh iya, botol air mineralnya harus di-cat dengan warna pekat ya, yg tidak tembus sinar matahati supaya tidak lumutan. Kalo wadah berlumut, tanaman bakal berebut nutrisi dengan lumut, pertumbuhannya tidak optimal


Di bagian pantat botol, lubangi dengan menggunakan solder atau paku dipanaskan, sekitar 3-4 lubang, dengan tujuan agar tanaman tetap bisa mendapatkan DO yang baik (oksigen terlarut).



Letakkan botol2 tanaman di tempat yang memungkinkan terkena cahaya matahari pagi-sore. Saya sendiri belum menemukan tempat itu...di tembok belakang rumah, cahayanya hanya sekitar 6 jam saja, itupun sering mendung....hiks.
Ahh, setidaknya sudah berusaha... ^_^




Oiya, jangan lupa mengecek ketersediaan air di dalam wadah nutrisi ya, minimal 2 hari sekali.

Akhir kata....selamat berkebun! :)